Megamendung Bogor | Bogor UpToDate.com
Buat kamu yang sering lewat jalur Puncak, pasti nggak asing sama satu titik jalan yang tiba-tiba naik dikit lalu turun lagi, persis di tengah jalan dua arah. Yup, warga sekitar kenal tempat ini sebagai Jembatan Tangga Riung.
Sekilas sih kelihatannya cuma jalan biasa. Nggak ada sungai, nggak ada jurang. Tapi kenapa disebut jembatan? Dan kenapa tempat ini sering dikaitkan sama sejarah Soekarno? Yuk kita bahas.
Bukan Jembatan Biasa
Secara teknis, Tangga Riung bukan jembatan besar kayak flyover. Bentuknya lebih ke peninggian jalan (undakan) yang dibuat mengikuti kontur tanah perbukitan Megamendung.
Struktur ini diduga bagian dari jalur lama peninggalan era kolonial Belanda, yang dulu jadi akses utama Batavia – Buitenzorg (Bogor) – Cianjur. Karena wilayah ini berbukit, beberapa bagian jalan dibuat seperti “naik tangga kecil”.
Nama “Tangga Riung” sendiri diyakini dari bahasa Sunda:
Tangga = undakan
Riung = berkumpul
Konon, area ini dulu jadi titik singgah warga sebelum lanjut naik ke arah Puncak.
Kaitan dengan Soekarno
Wilayah Megamendung–Cipanas memang punya hubungan sejarah dengan Soekarno. Presiden pertama RI itu sering berada di kawasan Puncak dan Cipanas, terutama setelah kemerdekaan, untuk beristirahat dan melakukan pertemuan penting.
Di sekitar jalur ini juga terdapat vila-vila tua peninggalan kolonial yang kerap dikaitkan dengan kunjungan Soekarno. Karena itu, masyarakat sering menyebut Tangga Riung sebagai bagian dari “jalur rumah Soekarno”, walaupun rumah pengasingan yang resmi tercatat berada di wilayah Cipanas.
Jadi, ini lebih ke jalur sejarahnya, bukan berarti rumahnya persis di atas jembatan tersebut.
Aura yang Katanya “Beda” Nah, ini bagian yang bikin banyak orang merinding tipis.
Dulu, sebelum seramai sekarang, kawasan Tangga Riung masih dikelilingi pepohonan lebat dan minim penerangan. Beberapa pengendara lama cerita kalau kabut bisa turun tiba-tiba dan bikin jarak pandang super pendek.
Ada juga cerita warga soal penampakan bayangan di pinggir jalan saat malam sepi. Tapi sampai sekarang, itu cuma jadi cerita turun-temurun. Nggak ada catatan resmi atau bukti konkret.
Sekarang Jadi Jalur Super Sibuk
Hari ini, Tangga Riung cuma jadi bagian dari rutinitas macet menuju Puncak. Ribuan kendaraan lewat tiap akhir pekan, dan mungkin banyak yang nggak sadar kalau mereka lagi melintas di salah satu titik jalur tua bersejarah di Bogor.
Dari jalur kolonial yang sunyi, jadi jalur wisata penuh klakson dan rombongan motor Tangga Riung literally saksi perubahan zaman. (Redi)













